zeldathemes
Manik Mata
The Motion of Emotion.

architags:

Gres House. Luciano Kruk. Itauna. Brasil. under construction. images (c) Luciano Kruk

majalah-katajiwa:

Kota adalah resultan seluruh daya cipta kemanusiaan kita. Kepadatannya membuat kita terbiasa penuh sesak dengan emosi. Sedetik yang lalu tangis, beberapa saat kemudian tawa. Hal yang sedemikian kita temukan begitu saja. Pada pokoknya kota adalah wajah kita dewasa ini….

Pendendam

Seperti lelaki itu, aku juga pendendam. Aku memelihara marah dalam tubuhku. Diam disana dan menjadi benci yang busuk.

Aku sering tersakiti. Bukan oleh satu orang, tapi banyak orang. Namun sakit itu aku genggam dengan diam. Sakit yang membuat nanah di dalam tubuhku semakin membengkak, kemudian meletus menjadi koreng yang tak bisa dihapus. Mungkin aku akan jatuh sakit, aku sengaja membiarkan nanah-nanah itu berkembang biak dalam tubuhku, demi tidak menyakiti orang lain.

Dalam keramaian kau akan melihatku tersenyum.

Seperti tak pernah ada apa-apa.
Seperti tak pernah terjadi apa-apa.

  #cerita    #hidup    #manikmata    #ceritamanikmata    #luka    #introvert    #dendam  

Lelagu

Ada lagu yg sering ku dengarkan, kau dengarkan.
Yang mengalunkan kita pada semesta, membaur di udara.
Kita tak akan terpecah kata-kata, melodi menyatu dengan sempurna.
Adakah yang dimatamu tak tampak di mataku?
Kita hanya terpisah tubuh, sedang ikhwal jiwa terpadu.
Suapa yang berteriak dari belakang rumah?
Musik telah menelan sunyi dan suara-suara sumbang yang menyakiti.

Malam jatuh. Aku meringkuk di bawah lampu yang menyembunyikan bayang-bayangmu.
Sementara udara menjadi begitu dingin, angin selalu tergesa bergerak, berputar, namun tak mau memutar-mutarkan kenangan.
Jarum jam telah lusuh, lelah memutar ingatan.
Aku mendekap diriku yang kuanggap sebagian dirimu.
Mata telah basah saat kau katakan kau akan keluar, mencari pub yang memutar lagu lebih kencang, lebih riuh, lebih bingar.

Di dalam rumah, aku bergumam. Menggumamkan lagu yang biasa kita nyanyikan. Hingga pagi muncul kembali.

  #puisimanikmata    #puisi    #sajak    #sastra  

Perjalanan Diantara Hujan yang Tak Reda.

Kataku, ombak bisa saja bersembunyi di tempat paling sunyi, diantara lekukan daun telingamu atau nyalang dibelah kedua matamu yang mengkerut.


Gelombang bisa saja hilang, setelah menghantarkan buih pulang ke daratan. Terkapar lemah di bibir pantai, menunggu matahari memecah gelembung satu persatu.

Aku masih bisa menatap matamu, tersungkur diatas pasir yang berbuih. Mendongengi kerang dan bangkai kepiting.

Senja merapat, matahari jatuh. Aku menemukan tanganmu merangkul kepedihan yang aku miliki. Sajak-sajak kau buat bagai tenung, tak memberi waktu merenung.

Aku menurut saja.

Kau jaketkan lenganmu ke lenganku. Laut dan pantai adalah hingar bingar, aku akan membawamu pulang kerumah yang lebih sunyi, lebih abadi. Katamu.

Kita dalam perjalanan pulang, jalan merentang panjang, gelap dan sepi. Pohon-pohon bersisihan, menyembunyikan hantu yang jatuh bersama bayang-bayang.

Tapi kau bersamaku.

Tiada yang lebih hangat dari jarak yang begitu dekat. Kau bersiul di sepanjang perjalanan, membungkam diam binatang malam, meredam siut angin yang membawa dingin. Gigilku tak terdengar.

Aku mendengar kau bercerita tentang hantu yang bersembunyi dan jatuh bersama bayang-bayang, mereka membawa masa lalu yang ditinggalkan para pejalan. Masa lalu yg telah lekang, yg tak mau di ingat siapapun.

Aku melihat kau memberikan terang pada jalan di depanku, bayang-bayang terkoyak, batu dan lubang sekarang nampak. Kau menggengam tanganku, memastikan kita serentak ketika harus melompat atau melipir ke tepi.

Perjalanan ini tak seharusnya terasa sepi. Tapi pada dinding-dinding langit aku bertanya, mengapa hujan tak pernah reda?

  #puisimanikmata